Lelaki
itu mengangkat tangannya yang memegang botol, berniat untuk memukulkannya
ke Anton, namun tiba-tiba pusing menguasainya, pandangannya gelap, dalam
seketika ia langsung terjatuh ke tanah tak berdaya. Anton menggunakan
kesempatan itu untuk segera pergi dari tempatnya berdiam diri, walau air mata
masih membasahi pipinya, napasnya masih terengah-engah, ia memutuskan untuk
pergi menjauh dari taman, ke tempat yang lebih aman, tempat ia bisa melelapkan
matanya, sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan bahwa lelaki itu tidak
mengikutinya, ia masih berlari sekuat tenaga, mencari tempat gelap yang cukup
untuk dirinya bersembunyi, namun setelah ia memastikan bahwa lelaki itu tidak
mengikutinya, ia mulai memperlambat langkahnya. Sekali lagi, ia baru menyadari
bahwa napasnya terengah-engah...
Ia
menemukan menemukan sebuah titik gelap di balik pohon yang cukup besar, mungkin
gue bisa istirahat disana, pikirnya sambil melangkahkan kakinya ke tempat itu,
ia mulai menyandarkan tubuhnya ke pohon itu, berusaha meluruskan kakinya,
mencoba mengatur napasnya, merenggangkan otot-ototnya yang sempat tegang.
Pikirannya masih terpusat pada lelaki it, masih bertanya-tanya, apakah ia
mengikutinya atau tidak, ia benar-benar menginginkan lelaki itu lenyap seketika
ditelan oleh bumi. Namun sejenak ia memikirkan tentang kejadian yang baru saja
ia alami, masalah tentang orang tuanya seakan lenyap, ia tak mengingatnya sama
sekali ketika kejadian itu, malah seakan kejadian itu tidak terjadi sama
sekali, seakan dia bukanlah dia, tapi orang lain yang mengetahui masalah yang
lain dan berusaha menempatkan dirinya pada masalah itu. Tak lama setelah ia
berpikir tentang hal itu dadanya serasa sakit, seakan ada bom yang membuat
lubang yang sangat dalam di dadanya, ia tak mengerti kenapa .
“hei,
lo kabur juga ye?” sapa sebuah suara di sisi gelap pohon tiba-tiba, ia sempat
melonjak kaget, respon ia langsung menoleh ke arah suara itu, seseorang yang
terlihat mengenakan pakaian serba hitam, tudung jaket hitamnya menutupi
sebagian wajahnya, hanya senyum kecil yang terlihat jelas di bibirnya yang
sebagiannya tertutupi oleh bayang-bayang gelap. Tubuhnya terlihat pendek,
mungkin karena ia dalam posisi duduk, tapi dari matanya terlihat kalau ia orang
yang telah lama menjalani hidupnya dalam kesendirian.
“sape
lo?!” Tanya Anton sinis, ia masih dikuasai oleh rasa keterkejutannya, seakan
melihat setan yang tiba-tiba ada di sampingnya, lagi-lagi hanya senyum kecil
yang samar yang terbingkai di bibir orang itu, hal itu membuat Anton sedikit
geram, ia segera beranjak berdiri, sedikit rasa kesal kini kembali menyelimuti
hatinya, tidak seperti rasa kesal saat ayah dan ibunya tidak memiliki waktu
untuknya. Ia kembali memikul tasnya ingin segera pergi menjauh dari tempat yang
sungguh tak menyodorkan rasa aman kepadanya, jangankan menyodorkan, menawarinya
saja tidak. ia berjalan semakin jauh dari pohon itu , semakin menjauh dari
taman yang memberikan kecaman kepada hatinya, tapi sekali lagi ia sadar, bahwa
kejadian di taman itu membuatnya melupakan kejadian yang membuatnya sakit,
bukan sekedar sakit, sakit yang tidak memiliki obat, kecuali satu hal, waktu.
Namun
saat ia telah berjalan cukup jauh dari taman, rasa penasaran datang
menghampirinya, penasaran siapa orang yang tadi menyapanya, rasa ingin tahunya
melunjak naik, berusaha mencari tahu, kenapa ia tahu bahwa saat ini ia sedang
kabur dari rumah, bagaimana mungkin ia tahu, atau mungkin ia juga mendapat
peristiwa yang sama dengan yang ia sedang alami, namun dari senyumnya, ia
adalah orang yang telah terbiasa untuk hidup menyendiri, pikiran-pikiran
tentang orang itu selalu saja mengganggu setiap langkahnya menjauh dari taman
itu. Ia memutuskan untuk menemui orang itu, memutuskan untuk bertanya lebih
jauh tentang orang itu, entah orang itu masih disana atau malah sudah pergi. Ia
mulai melangkahkan kakinya ke arah taman itu lagi, namun berharap tidak bertemu
dengan lelaki yang sedang mabuk itu. Bulan semakin membusungkan dadanya, seakan
seorang raja yang berada di tempat yang tinggi, seakan ada mata yang terus
mengawasinya, semakin lama semakin di ketinggian, sapat melihat seisi jagat
raya dengan mudahnya, entah waktu sekarang menunjuk jam berapa, udara sudah
semakin dingin, kadang membuat tubuh bergetar tanpa disadari. Anton menebarkan
pandangannya ke seluruh taman, melihat lelaki yang mabuk tadi, ia masih
tergeletak di tanah, sedikit rasa syukur ada di hatinya, ia kembali ke
bayang-bayang pohon besar, mellihat orang itu masih ada di sana dengan posisi
duduknya. Kembali senyum kecil terbingkai di bibirnya saat melihat Anton
kembali.
“kenapa
balik lagi, penasaran lo!” ia menebak sebab kedatangan Anton, telak Anton hanya
bisa tersenyum malu, ini orang aneh bangat ye, gue belom bilang apa-apa dia dah
tau maksud kedatengan gue, pikir Anton, ada sedikit rasa takjub dalam dirinya,
“ dah, mending lo tidur dulu, besok baru ngobrolnye, sekarang dah malem bangat,
OK?” lanjutnya singkat, suaranya tegas, gak cocok buat seorang cewe, pikir
Anton lagi. Cewek itu langsung merebahkan tubuhnya di atas rerumputan yang
tebal, seakan tidur di atas kasur yang lembut, ia langsung terlelap pulas. Kok
bisa, die merasa begitu aman, ini kan bukan rumah, jalanan-gila-jalanan, heran
gua kok ada cewe kayak die ya, ntar kalo di ada orang yang ngapa-ngapain dy
gimana…., pikir Anton geram, ia merasa berada di bawah derajat perempuan itu,
bagaimana mungkin, ia seorang lelaki merasa terancam berada di luar rumah,
sedang ia sebagai seorang perempuan, merasa sangat nyaman berada di luar rumah,
di lingkungan yang sama sekali tidak bersahabat dengannya. Anton merasa
dilecehkan, dilecehkan oleh dirinya sendiri. Ia merasa sedikit takut, takut
terjadi sesuatu terhadap perempuan itu hingga ia memutuskan untuk terjaga malam
itu, pagi hari saat melihat perempuan itu sedikit terbangun, ia langsung
melelapkan diri, entah kapan akan terbangun.
“woi,
molor aja kerjaan lo..! makan tuh” bentak sebuah suara, Anton masih dalam
keadaan setangah sadar, matanya masih buram akibat kotoran yang ada di matanya,
ia menggerakkan tangannya untuk membersihkannya, matahari menyinarinya matanya,
selain membersihkannya ia juga menutupinya dari sinar matahari yang membuatnya
silang. “kenape lo, kaga tidur semaleman, sekarang dah jam berapa… liat sono
jam tangan lo…!” Anton langsung melihat jam hitam yang tergantung di tangannya,
menunjukkan pukul sebelas. Anton langsung tersenyum malu, wajahnya mulai
memerah. Ia langsung tersadar bahwa ia telah lama terlelap, rasa kantuknyapun
tiba-tiba hilang begitu saja, lenyap entah kemana, orang yang sekarang ada di
depan gue asyik juga, dan gak punya rasa takut walaupun dia cewe, pikir Anton.
Hal itu cukup membuat Anton termotivasi untuk menjalani hidupnya, walaupun
perempuan itu sinis pada awalnya, pandangannya cukup menyeramkan bagi orang
yang baru mengenalnya, tapi jika sedikit lebih kenal, ia merupakan orang yang
menyenangkan. Anton menatapnya untuk beberapa saat, tekagum akan sifat yang
dimilikinya. “ jeeh dia bengong…! Nape gua cantik ye?!.. hehehehe.. becanda….
becanda…. Cuci muka sono lu… butek bangat tuh muka.” Lanjutnya
“
Nama lo spe?” hanya senyum, kini senyum riang yang terbalut di bibirnya, namun
ia tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan itu, kecuali menunjuk ke arah
pancuran air yang berada di taman. “Iye iye ngerti gua….”jawab Anton
berpura-pura kesal sambil melangkah pergi.
Matanya
tertuju pada pancuran air yang berada cukup jauh dari pohon tempanya terlelap
semalam, berusaha agar ia tak menoleh ke belakang, ia ingin membuat perempuan
itu merasa bersalah sedikit karena semua pertanyaannya belum pernah dijawabnya,
namun tak berhasil, iapun melanjutkan langkahnya menuju pancuran air. Tanpa ia
sadari, ternyata pancuran itu dekat dengan bangku taman tempat ia merenung
semalam, tempat seorang lelaki yang sedang mabuk yang berusaha memukulnya, dan
lelaki itu masih tertidur disana, entah tertidur, entah memang masih belum
sadarkan diri sejak semalam, sedikit rasa takut menyelimutinya, takut lelaki
itu terbangun saat ia sedang lengah, saat ia tidak mempunyai persiapan untuk
melawan. Ia mencoba membuang rasa takutnya dan beranjak cepat ke pancuran air,
ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, mencuci muka. Ia membendung air yang
mengalir dengan tangannya, kemudian membasuhkannya ke wajahnya, ia merasakan
kesegaran yang membuat wajahnya nyaman, membuat hatinya tentram, tapi tiba-tiba
saja tubuhnya lemas, punggungnya terasa sakit luar biasa, dan darah mengalir di
depan matanya, seketika itupun ia terjerembab jatuh ke tanah.












