Blogger news

Pages

This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Rabu, 07 Agustus 2013

Berandal 2



Lelaki itu mengangkat tangannya yang  memegang botol, berniat untuk memukulkannya ke Anton, namun tiba-tiba pusing menguasainya, pandangannya gelap, dalam seketika ia langsung terjatuh ke tanah tak berdaya. Anton menggunakan kesempatan itu untuk segera pergi dari tempatnya berdiam diri, walau air mata masih membasahi pipinya, napasnya masih terengah-engah, ia memutuskan untuk pergi menjauh dari taman, ke tempat yang lebih aman, tempat ia bisa melelapkan matanya, sesekali ia menoleh ke belakang, memastikan bahwa lelaki itu tidak mengikutinya, ia masih berlari sekuat tenaga, mencari tempat gelap yang cukup untuk dirinya bersembunyi, namun setelah ia memastikan bahwa lelaki itu tidak mengikutinya, ia mulai memperlambat langkahnya. Sekali lagi, ia baru menyadari bahwa napasnya terengah-engah...
Ia menemukan menemukan sebuah titik gelap di balik pohon yang cukup besar, mungkin gue bisa istirahat disana, pikirnya sambil melangkahkan kakinya ke tempat itu, ia mulai menyandarkan tubuhnya ke pohon itu, berusaha meluruskan kakinya, mencoba mengatur napasnya, merenggangkan otot-ototnya yang sempat tegang. Pikirannya masih terpusat pada lelaki it, masih bertanya-tanya, apakah ia mengikutinya atau tidak, ia benar-benar menginginkan lelaki itu lenyap seketika ditelan oleh bumi. Namun sejenak ia memikirkan tentang kejadian yang baru saja ia alami, masalah tentang orang tuanya seakan lenyap, ia tak mengingatnya sama sekali ketika kejadian itu, malah seakan kejadian itu tidak terjadi sama sekali, seakan dia bukanlah dia, tapi orang lain yang mengetahui masalah yang lain dan berusaha menempatkan dirinya pada masalah itu. Tak lama setelah ia berpikir tentang hal itu dadanya serasa sakit, seakan ada bom yang membuat lubang yang sangat dalam di dadanya, ia tak mengerti kenapa .
“hei, lo kabur juga ye?” sapa sebuah suara di sisi gelap pohon tiba-tiba, ia sempat melonjak kaget, respon ia langsung menoleh ke arah suara itu, seseorang yang terlihat mengenakan pakaian serba hitam, tudung jaket hitamnya menutupi sebagian wajahnya, hanya senyum kecil yang terlihat jelas di bibirnya yang sebagiannya tertutupi oleh bayang-bayang gelap. Tubuhnya terlihat pendek, mungkin karena ia dalam posisi duduk, tapi dari matanya terlihat kalau ia orang yang telah lama menjalani hidupnya dalam kesendirian.
“sape lo?!” Tanya Anton sinis, ia masih dikuasai oleh rasa keterkejutannya, seakan melihat setan yang tiba-tiba ada di sampingnya, lagi-lagi hanya senyum kecil yang samar yang terbingkai di bibir orang itu, hal itu membuat Anton sedikit geram, ia segera beranjak berdiri, sedikit rasa kesal kini kembali menyelimuti hatinya, tidak seperti rasa kesal saat ayah dan ibunya tidak memiliki waktu untuknya. Ia kembali memikul tasnya ingin segera pergi menjauh dari tempat yang sungguh tak menyodorkan rasa aman kepadanya, jangankan menyodorkan, menawarinya saja tidak. ia berjalan semakin jauh dari pohon itu , semakin menjauh dari taman yang memberikan kecaman kepada hatinya, tapi sekali lagi ia sadar, bahwa kejadian di taman itu membuatnya melupakan kejadian yang membuatnya sakit, bukan sekedar sakit, sakit yang tidak memiliki obat, kecuali satu hal, waktu.
Namun saat ia telah berjalan cukup jauh dari taman, rasa penasaran datang menghampirinya, penasaran siapa orang yang tadi menyapanya, rasa ingin tahunya melunjak naik, berusaha mencari tahu, kenapa ia tahu bahwa saat ini ia sedang kabur dari rumah, bagaimana mungkin ia tahu, atau mungkin ia juga mendapat peristiwa yang sama dengan yang ia sedang alami, namun dari senyumnya, ia adalah orang yang telah terbiasa untuk hidup menyendiri, pikiran-pikiran tentang orang itu selalu saja mengganggu setiap langkahnya menjauh dari taman itu. Ia memutuskan untuk menemui orang itu, memutuskan untuk bertanya lebih jauh tentang orang itu, entah orang itu masih disana atau malah sudah pergi. Ia mulai melangkahkan kakinya ke arah taman itu lagi, namun berharap tidak bertemu dengan lelaki yang sedang mabuk itu. Bulan semakin membusungkan dadanya, seakan seorang raja yang berada di tempat yang tinggi, seakan ada mata yang terus mengawasinya, semakin lama semakin di ketinggian, sapat melihat seisi jagat raya dengan mudahnya, entah waktu sekarang menunjuk jam berapa, udara sudah semakin dingin, kadang membuat tubuh bergetar tanpa disadari. Anton menebarkan pandangannya ke seluruh taman, melihat lelaki yang mabuk tadi, ia masih tergeletak di tanah, sedikit rasa syukur ada di hatinya, ia kembali ke bayang-bayang pohon besar, mellihat orang itu masih ada di sana dengan posisi duduknya. Kembali senyum kecil terbingkai di bibirnya saat melihat Anton kembali.
“kenapa balik lagi, penasaran lo!” ia menebak sebab kedatangan Anton, telak Anton hanya bisa tersenyum malu, ini orang aneh bangat ye, gue belom bilang apa-apa dia dah tau maksud kedatengan gue, pikir Anton, ada sedikit rasa takjub dalam dirinya, “ dah, mending lo tidur dulu, besok baru ngobrolnye, sekarang dah malem bangat, OK?” lanjutnya singkat, suaranya tegas, gak cocok buat seorang cewe, pikir Anton lagi. Cewek itu langsung merebahkan tubuhnya di atas rerumputan yang tebal, seakan tidur di atas kasur yang lembut, ia langsung terlelap pulas. Kok bisa, die merasa begitu aman, ini kan bukan rumah, jalanan-gila-jalanan, heran gua kok ada cewe kayak die ya, ntar kalo di ada orang yang ngapa-ngapain dy gimana…., pikir Anton geram, ia merasa berada di bawah derajat perempuan itu, bagaimana mungkin, ia seorang lelaki merasa terancam berada di luar rumah, sedang ia sebagai seorang perempuan, merasa sangat nyaman berada di luar rumah, di lingkungan yang sama sekali tidak bersahabat dengannya. Anton merasa dilecehkan, dilecehkan oleh dirinya sendiri. Ia merasa sedikit takut, takut terjadi sesuatu terhadap perempuan itu hingga ia memutuskan untuk terjaga malam itu, pagi hari saat melihat perempuan itu sedikit terbangun, ia langsung melelapkan diri, entah kapan akan terbangun.
“woi, molor aja kerjaan lo..! makan tuh” bentak sebuah suara, Anton masih dalam keadaan setangah sadar, matanya masih buram akibat kotoran yang ada di matanya, ia menggerakkan tangannya untuk membersihkannya, matahari menyinarinya matanya, selain membersihkannya ia juga menutupinya dari sinar matahari yang membuatnya silang. “kenape lo, kaga tidur semaleman, sekarang dah jam berapa… liat sono jam tangan lo…!” Anton langsung melihat jam hitam yang tergantung di tangannya, menunjukkan pukul sebelas. Anton langsung tersenyum malu, wajahnya mulai memerah. Ia langsung tersadar bahwa ia telah lama terlelap, rasa kantuknyapun tiba-tiba hilang begitu saja, lenyap entah kemana, orang yang sekarang ada di depan gue asyik juga, dan gak punya rasa takut walaupun dia cewe, pikir Anton. Hal itu cukup membuat Anton termotivasi untuk menjalani hidupnya, walaupun perempuan itu sinis pada awalnya, pandangannya cukup menyeramkan bagi orang yang baru mengenalnya, tapi jika sedikit lebih kenal, ia merupakan orang yang menyenangkan. Anton menatapnya untuk beberapa saat, tekagum akan sifat yang dimilikinya. “ jeeh dia bengong…! Nape gua cantik ye?!.. hehehehe.. becanda…. becanda…. Cuci muka sono lu… butek bangat tuh muka.” Lanjutnya
“ Nama lo spe?” hanya senyum, kini senyum riang yang terbalut di bibirnya, namun ia tidak memberikan jawaban untuk pertanyaan itu, kecuali menunjuk ke arah pancuran air yang berada di taman. “Iye iye ngerti gua….”jawab Anton berpura-pura kesal sambil melangkah pergi.
Matanya tertuju pada pancuran air yang berada cukup jauh dari pohon tempanya terlelap semalam, berusaha agar ia tak menoleh ke belakang, ia ingin membuat perempuan itu merasa bersalah sedikit karena semua pertanyaannya belum pernah dijawabnya, namun tak berhasil, iapun melanjutkan langkahnya menuju pancuran air. Tanpa ia sadari, ternyata pancuran itu dekat dengan bangku taman tempat ia merenung semalam, tempat seorang lelaki yang sedang mabuk yang berusaha memukulnya, dan lelaki itu masih tertidur disana, entah tertidur, entah memang masih belum sadarkan diri sejak semalam, sedikit rasa takut menyelimutinya, takut lelaki itu terbangun saat ia sedang lengah, saat ia tidak mempunyai persiapan untuk melawan. Ia mencoba membuang rasa takutnya dan beranjak cepat ke pancuran air, ingin segera menyelesaikan pekerjaannya, mencuci muka. Ia membendung air yang mengalir dengan tangannya, kemudian membasuhkannya ke wajahnya, ia merasakan kesegaran yang membuat wajahnya nyaman, membuat hatinya tentram, tapi tiba-tiba saja tubuhnya lemas, punggungnya terasa sakit luar biasa, dan darah mengalir di depan matanya, seketika itupun ia terjerembab jatuh ke tanah.

Sabtu, 03 Agustus 2013

Berandal 1


Ia dikenal sebagai “Anton si pisau merah”, karena banyak orang yang hanya dapat terdiam saat melihat ia berjalan, bukan karena ia memiliki ketampanan wajah, atau kekayaan yang teramat banyak, melainkan karena mereka takut jika Anton merasa tersinggung akibat tingkah mereka. Mereka tahu jika ia merasa tersinggung tak lama kemudian aka nada seseorang yang mengalirkan darah.

Ia tinggal di sebuah perkampungan yang bisa dibilang kumuh, tidak terawat, sampah berserakan dimana-mana, tikus-tikus got berkeliaran di sekitar perkampungan itu, setiap waktu suasana selalu saja ramai, bahkan dapat dibilang gaduh, tidur di siang maupun malam terasa sama saja, penuh dengan kebisingan, entah mengapa pemerintah tidak pernah menengok walau hanya sesaat, melihat keadaan masyarakatnya yang berada di bawah garis kemiskinan atau mereka telah lupa dengan masyarakatnya. Padahal sebelumnya ia tinggal di rumah yang cukup bagus, bahkan bisa dibilang besar dan mewah, segala macam keinginan yang terbenak pasti akan segera terkabul, tidak pernah bingung mengurus diri, tidak perlu repot membersihkan halaman rumah, bahkan untuk berjalan ke  toko yang berada di sebelah rumahnya saja ia enggan, ia hanya perlu memanggil sebuah nama “Bi Ija….h” semua yang ia mau akan segera datang. Sayang,,,, ada satu hal yang tidak bisa ia dapatkan, kehadiran orang tuanya di rumah untuk dirinya penuh dalam sehari, ia hanya bisa melihat ayah dan ibunya saat sarapan bersama dan baru akan melihat lagi pada malam hari, bahkan terkadang, saat bangun ia tidak menemukan kedua orang tuanya dan mereka belum kembali saat ia mulai menutup mata.

Semuanya berawal saat pertengkaran kedua orang tuanya, saat itu ia masih duduk di bangku sekolah menengah atas, tepatnya kelas 10, pertengkaran yang berakhir dengan perceraian itu membuat hatinya menjadi kacau dan memberontak, tak relakan kedua orang tuanya berpisah. Entah mungkin pernikahan mereka didasari oleh apa, saat seperti anak mulai bisa merasa, mereka malah berpisah, atau mungkin mereka tidak memikirkan kehadirannya di samping mereka, tak merasa bahwa mereka mempunyai seorang anak, atau malah sebenarnya mereka tidak menginginkan seorang anak lahir ke dunia ini, atau lebih parah lagi…… ia adalah hasil dari sebuah kecelakaan. Pikirannya melambung jauh, kekacauan ada dalam pikirannya, hatinya diselimuti kegelisahan, hingga akhirnya ia memutuskan untuk pergi meninggalkan rumah tepat pada hari sidang diputuskan, pergi ke tempat dimana ia tidak akan melihat kedua orang tuanya lagi, ia benar-benar tidak ingin melihat kedua orang tuanya lagi. ia membawa sedikit bekal berupa pakaian dan uang, entah kemana yang akan ia tuju, ia hanya memikirkan untuk pergi dari rumah yang akan mengingatkannya kepada kedua orang tuanya, orang tuanya yang tak pernak menyisihkan waktu untuknya walau hanya sedikit. Ia melangkahkan kakinya pergi, walau air mata tetap saja mengalir membasahi pipinya, ia melangkah jauh, jauh meninggalkan rumah yang telah ia tempati lebih dari 15 tahun, pergi membawa hati yang hancur.
Malam kini menemaninya, lantunan nyanyian burung hantu juga tak lupa bergabung dalam sepinya malam, mungkin burung itu bertanya “kenapa ada seorang anak manusia yang bersedih?” dengan suaranya. Ia duduk di atas sebuah bangku taman, diterangi oleh pijarnya lampu yang remang-remang, udara dingin juga menusuk-nusuk kulitnya, malam itu seakan dunia sepi, tanpa suara, redup akan cahaya, hanya ada satu suara yang terdengar, jeritan hatinya, namun mulutnya tetap terkatup rapat sedang matanya sembab, masih basah oleh air matanya. Di kejauhan ia melihat seseorang, berjalan sempoyongan dan terkadang hampir menabrak lampu taman, wajahnya merah padam, namun membersitkan ketidaksadaran, ia sedang mabuk. pakaiannya berantakan, Levis bermerek abal yang sudah kusut menutupi tubuhnya bagian bawah bahkan mungkin telah lama tidak dicuci, warna birunya kini sudah terlihat kumuh,  begitu pula bagian atas tubuhnya yang hanya ditutup jaket Levis yang sudah banyak berlubang disana sini, rambutnya.... Sangat sulit untuk menjelaskan lelaki itu, jika pernah melihat orang yang paling tidak rapi, maka dialah orangnya, Anton merasa  sedikit takut dengan kehadirannya, ia memalingkanwajahnya,  bertingkah seolah ia tak melihat bahwa orang itu ada.
"hei anak muda... "sapa orang itu dengan suara yang terseret-seret," apa yang.... kau lakukan... tengah malam seperti ini.... ? " tanyanya seolah peduli, ia masih dikuasai oleh efek minuman keras, di tangannya masih tergenggam erat botol hijau bertuliskan " Absinth",  Anton hanya berdiam diri, menempatkan dirinya dalam sandiwara tidur, atau tertidur, hingga lelaki itu menyangka bahwa ia benar-bemar tidur  "BANGSAT..!". bentuknya, spontan Anton kaget dan kehilangan kontrolnya dalam drama yang sedang ia mainkan "GUA TANYA... Bukannya... lo.... Ja... Wab.. Malah pura... -pura tidur, An.. Jing lo..."  lanjutnya sambil mengangkat botol hijau yang ada di tangannya, berniat untuk memukulkannya ke Anton, Anton hanya melindungi dirinya dengan punggung belakangnya, ia bergidik ketakutan.

nyoba-nyoba

gue percaya bahwa ada banyak keajaiban yang ada di dunia ini, kerena satu hal, gue dah sering bertemu dengan keajaiban itu. pertamanya gua juga gak percaya kalo ada keajaiban, sampai suatu saat waktu gue jalan sama seseorang, gue ngliat keajaiban itu datang.
Diberdayakan oleh Blogger.